Feb 21, 2016 - Berita, Workshop    Comments Off

Tentang Paper dan Jurnal (#2)

Jurnal yang bagus bisa terindikasi dari: tingginya “impact-factor” (IF) dan rankingnya (sistem Quartile (Q1-Q4) dari JCR atau SJR), atau indeksasi database-nya (Scopus, Web of Science, dll). Lalu dapat dilihat juga dari siapa “Editor-in-chief”-nya, “Editorial board member”-nya, para “Author” sebelumnya, kemudian penerbitnya. Penerbit atau “publisher” (seperti Nature, Elsevier, Springer, Wiley, dll) mengelola jurnal secara profesional untuk melayani dua kepentingan: ilmu pengetahuan dan bisnis.

Gambar 1 memperlihatkan ranking jurnal kategori Biomedical Engineering menurut IF dari JCR Web of Science

Menurut pengamatan saya, jurnal yang berafiliasi dengan asosiasi profesi, meskipun IF-nya lebih rendah dari jurnal lain sejenisnya, biasanya proses review-nya lebih ketat. Mungkin karena pertimbangan aspek ilmunya lebih kuat dari aspek bisnisnya. Contohnya eCM Journal (salah satu top jurnal bidang ortopedi, lihat link-1 di bagian comment), dimana paper kami mengalami dua kali “major revision” (dengan komentar dari 4-5 reviewer) tapi akhirnya “rejected”.

Paper yang diterima di jurnal yang bagus dan mengalami proses review yang ketat secara langsung akan memiliki mutu yang baik. Paper yang baik akan mendapat citation yang banyak yang pada gilirannya meningkatkan “citation metrix” (h-index) author-nya. H-index merupakan perbandingan jumlah citation terhadap jumlah paper yang di-cite, misalnya h-index = 100 maknanya ada 100 paper yang di-cite minimal 100 kali.

Ada banyak pro-kontra tentang h-index ini, misalnya “nebengers/tumpangers” juga bisa tinggi h-indexnya. Perkara ini nanti dibahas di lain waktu. Yang jelas, jika sudah publish 100 paper tapi h-index = 5 saja, menandakan ada yang kurang dengan mutu paper-papernya.

Sekarang ini ada 3 database yang dikenal memberikan citation metrix: (1) Web of Science, yang lebih selektif dari (2) Scopus, lebih selektif dari (3) Google Scholar. Contohnya saya sendiri, untuk data pada 31/01/2016: publications/citations/h-index: Google Scholar 65/973/14; Scopus 40/633/11; Web of Science 32/514/10 (lihat link-2 di bagian comment).

H-index saya diatas bisa mengecil lagi jika datanya di-filter. Misalnya “self-citation” dihilangkan, atau papernya diseleksi hanya yang saya sebagai “main author” saja (1st author dan corresponding author), atau rentang waktu publikasinya dibatasi hanya yang 5 tahun terakhir saja.

Di jaman serba online sekarang ini, siapa pun bisa mengecek author dan publikasinya, misalnya melalui “Scopus author look-up” (lihat link-3 di bagian comment) atau paling tidak melalui Google Scholar. Ini bisa membantu klarifikasi terhadap bias dari memandang kepakaran seseorang karena: kekerapan muncul di media massa, selebriti medsos, pengrajin blog, bogus di CV (self-proclaimed), hiperbola promosi dari universitas, “kata orang” dan “urban legend” lainnya.

Kembali ke IF, nilai ini merupakan rasio jumlah citation terhadap jumlah “citeable” paper yang dipublish sebuah jurnal untuk waktu tertentu (misalnya setiap periode 2 tahun). Sekarang ini yang paling dipandang adalah IF yang dikeluarkan oleh Journal Citation Report (JCR) dari Web of Science.

Perlu diingat, IF adalah pendekatan ukuran mutu untuk jurnal, bukan untuk paper apalagi untuk author. Paper yang dipublish di jurnal ber-IF tinggi memiliki peluang lebih banyak dibaca lalu di-cite orang. Tetapi tetap tergantung mutu papernya atau juga popularitas bidang dan trend topik riset dunia. Contohnya, paper kami yang dipublish tahun 2013 di Acta Biomaterialia (IF = 6.025, Q1) sampai sekarang hanya di-cite 4 kali, sementara paper lain tahun 2014 di Materials Science and Engineering C (IF = 3.088, Q3) telah di-cite 8 kali.

–> Tambahan: Kalo mau diibaratkan, jurnal = universitas, paper = orang yang mendapat doktor disitu, citation = produktivitas riset setelah doktor. Pada akhirnya, dari manapun dapat doktornya, yang lebih bernilai prestasi setelah doktor.

“Jadi aneh juga kan jika author mengukur mutu pengalaman riset dan publikasinya dengan hitungan cumulative IF (seperti anak manja bergaya dengan harta bapaknya). Namun, seperti h-index, IF juga terkena banyak pro-kontra, nanti dibahas di lain waktu”.

Bersambung …

Silahkan klik | Link 1 | Link 2 | Link 3 |

Ditulis oleh: Dr. Hendra Hermawan, assistant professor at Laval University, Canada, and member of MBI LINK

Comments are closed.