Feb 21, 2016 - Berita, Workshop    Comments Off

Tentang Paper dan Jurnal (#3, end)

Kembali kepada tujuan ilmu pengetahuan yang harus disebarkan, tenyata kebanyakan paper dan jurnal hanya bisa diakses dengan cara membeli satuan atau berlangganan (kepada publisher atau penyedia database: Scopus, Web of Science, ScienceDirect, dsb). Hal ini tentunya menjadi kendala bagi author dari institusi yang tidak berlangganan dan membatasi penyebaran ilmu pengetahuan itu sendiri.

Keadaan eksklusif ini mendorong munculnya gerakan “Open Access” dimana publisher membuka akses “download” paper kepada siapa saja, setelah biaya proses produksi (article processing charge) dibayar oleh author atau institusinya atau sponsor. Contoh open access publisher diantaranya: BioMed Central, PLOS, SAGE, dll yang terindeks dalam “Directory of Open Access Journals” (DOAJ), termasuk banyak jurnal dari Nature Publishing Group. Bahkan sekarang banyak publisher tradisional seperti Elsevier menyediakan opsi open access (per paper) pada jurnal-jurnalnya.

Gambar 1 memperlihatkan sejumlah penerbit yang tergabung dalam DOAJ.

Journal of Orthopaedic Translation adalah contoh jurnal open access yang diterbitkan Elsevier. Semua papernya bebas untuk diunduh, karena disponsori oleh “Chinese Speaking Orthopaedic Society” (lihat link-1).

Dalam pandangan saya, opsi open access per paper ini memberikan kesempatan kepada author untuk berderma dengan uang pribadinya dan mempermudah penyebaran ilmu yang dituliskan dalam papernya.

Namun, oleh pihak tertentu publikasi dipandang sebagai lahan bisnis semata terutama setelah banyak pemangku kebijakan menetapkan publikasi internasional sebagai salah satu indikator untuk promosi. Inilah yang oleh Dr. Jeffrey Beall disebut “Predatory Journals/Publishers” atau oleh Dr. Bambang Sumintono disebut “Jurnal Abal-abal” dan beliau-beliau mengingatkan para author untuk berhati-hati terhadap tipu daya mereka (lihat link-2).

Meskipun dari sisi gelap, kehadiran para predator ini justru dimanfaatkan oleh sebagian author sebagai jalan pintas untuk publikasi paper yang kurang bermutu namun masih bisa diakui untuk promosi. “Anda bayar kami publish, dan anda pun naik pangkat!”

Dan ternyata, ketika pemangku kebijakan melihat kelemahan ini dan menaikkan standar kualitas publikasi dengan meminjam indeks Scopus sebagai acuan, ada yang memberikan resistensinya, contohnya (lihat link-3).

Dan jangan lupa, banyak jurnal dalam negeri yang sudah berkaliber internasional dan terindeks, seperti jurnal asuhan Dr. Tole Sutikno: “Indonesian Journal of Electrical Engineering and Computer Science” yang terindeks di Scopus, EBSCO, DOAJ, dll (lihat link-4). “Semoga jurnal ini terus berjaya!”

“Sebuah publikasi akan terus eksis melebihi usia sang author dan dibaca oleh generasi kemudian, termasuk mungkin anak cucu author. Mari warisi mereka dengan ilmu pengetahuan melalui publikasi yang bermutu!”

Terakhir, saya hanya mengingatkan bahwa ketika paper kita diterima dan siap dipublish oleh non-open access publisher, mereka akan meminta “legal consent” kita untuk bersetuju menyerahkan “copyright” kepada mereka (copyright transfer agreement). Artinya “legally” kita tidak berhak menyebarkan “published version” paper kita tanpa seizin mereka, seperti memajang “downloadable” pdf file-nya di website kita atau di ResearchGate. Namun umumnya didalam agreement itu, author masih diperbolehkan berbagi kepada yang meminta papernya selama untuk tujuan pendidikan.

Jika ingin berbagi secara legal, kita bisa menggunakan platform “self-archiving” seperti ArXiv dan Sherpa/Romeo (lihat link-5 dan link-6). “Kebaikan harus disebarkan dengan cara yang baik pula”.

TAMAT.
Versi pdf lengkap semua bagian dapat diunduh di link-7.

Silahkan klik | Link 1 | Link 2 | Link 3 | Link 4 | Link 5 | Link 6 | Link 7 |

Ditulis oleh: Dr. Hendra Hermawan, assistant professor at Laval University, Canada, and member of MBI LINK

Comments are closed.